Kamis, 25 April 2013

Belajar Merelakan

Bacotan cinta -_-
Merelakan ?

“Kita bakal tersenyum kalo orang yang kita cintai juga tersenyum bahagia. Entah dengan siapapun. Tetapi kebahagiaannya adalah kebahagiaan kita (orang yang mencintainya). Yaaaaaah walau senyum dan kebahagiaannya harus dengan orang yang dia cintai dan orang yang dia cintai itu bukan kita”

                Mungkin kata-kata itu bohong, munafik. Bagaimana mungkin kita bisa ngerelain orang yang kita cintai dengan orang lain. Pasti sakit. Mungkin hati kita akan hancur. Saat tau kebahagiaan yang di cari adalah bukan dengan kita.
                Saat dia masih dengan orang yang di cintai, lihat dia. Mungkin wajah sedihnya akan lenyap dengan kebahagiaan yang dia hasilkan berdua dengan seseorang. Senyumnya, wajahnya, matanya seolah-olah mengisyaratkan “ini loh kebahagiaan yang aku cari”. Dan saat kamu lihat wajah bahagianya, aku yakin kamu pasti melupakan dengan siapa dia sekarang. Dan aku yakin pasti wajahmu ikut tersenyum melihatnya (yaa walaupun miris). Ketauhilah, kebahagiaannya adalah kebahagiaan mu, dan kebahagiaan mu bukan kebahagiaanya.
                Saat dia ngga lagi dengan orang yang di cintai. Tatap matanya dalam-dalam, lihat perubahan dari dirinya. Lihat wajahnya yang lekat dengan kesedihan. Tarik nafas dalam-dalamm lihat tubuhnya, pikirkan perubahan itu, dan tutup matamu sejenak. Dan kamu akan dapati pipimu yang basah dengan air mata. Aku yakin bahwa hatimu terucap “Cari kebahagiaanmu. Aku rela walaupun kebahagiaan itu bukan dengan aku. Karena aku ngga mampu lihat dirimu yang sekarang ini. Aku rindu dengan senyum di wajah yang katamu tampan itu. Cari seseorang yang bisa kamu ajak untuk mengukir kebahagiaan di setiap lembar kehidupanmu itu. Berjuanglah. Disini, aku mendukungmu. Walau sedikit perih sih”
                Dengan ngga sadar, kamu sudah merelakan dia. Mencintai seseorang adalah hak mu, tapi memiliki dirinya bukan sepenuhnya dari hakmu. Relakan dia, demi mencari kebahagiaan. Kan kebahagiaannya itu untuk kamu. Dia pingin lihat kamu bahagia dengan cara lain. Dan cintai dia sekuat raga hatimu. “Percayalah, dia akan selalu ada dalam hatimu jika kamu tetap mencintainya”

Mungkin Terlalu Berharap ?


Mungkin Terlalu Berharap...

                Hai. masih tetep kan? Yakan? Benerkan? Rasanya semua terjadi begitu cepat, kita berkenalan lalu merasakan perasaan yang aneh. Setap hari rasanya beda. Kamu hadir membawa banyak perubahan dalam hariku. Seakan kamu yang mengendalikan fungsi otakku. Aku menjadi takut kehilangan kamu. Aku sulit jauh darimu. Salahkan jika kamu aku nomorsatukan?
                Tapi entah kenapa sikapmu ngga seperti sikapku? Perhatianmu ngga sedalam perhatianku? Tatapan matamu ngga setajam tataapan mataku? Apa ada kesalahan dariku? Apa kamu sekarang merasakan apa yang aku rasakan?
                Kamu mungkin belum terlalu paham dengan perasaanku. Apa dosa jika aku sering menunggu kabar darimu? Aku selalu merasa kehilangan kamu sampai sekarang. Kamu pergi tanpa meminta izin. Hmm minta izin? Memang aku ini siapamu? Kekasihmu? Bukan lagi. Hadir dalam mimpimu saja aku sudah bersyukur. Apalagi bisa kembali padamu.mungkinkah? Bisakah?
                Janjimu terlalu banyak, hingga aku lupa menghitung mana saja yang belum kamu tepati. Lihat aku yang hanya diam dan membisu. Tatap aku yang menyayangimu tulus  namun kamu hempaskan begitu saja. Seberapa tidak pentingnya aku? Apa aku hanya persimpangan jalan yang selalu kamu abaikan dan kamu tinggalkan? Apa aku ngga berharga? Apa aku hanya boneka yang selalu ikut aturanmu? Dimana letak hatimu?
                Aku ngga bisa bicara banyak, dan juga ngga ingin mengutarakan semua yang udah terjadi. Aku ngga berhak berbicara tentang cinta. Aku ngga mungkin bisa berkata rindu. Aku ngga bisa apa-apa selain hanya memandangimu dan membawa namamu dalam percakapan panjangku dengan Tuhan.
                Apa aku ngga pantas bahagia bersamamu? Hmm kurasa terlalu banyak pertanyaan. Aku muak sendiri. Aku masih menyayangimu yang belum terntu juga masih menyayangiku. Aku sudah bukan siapa-siapa lagi di matamu dan aku ngga akan pernah jadi siapa-siapa lagi. Sebenarnya aku masih pingin tau dimana aku letakan hatiku yang selama ini aku kasih ke kamu? Tapi kurasa kamu enggan menjawab. Siapa lagi seseorang yang beruntung telah memiliki kamu?
                Hmm kurasa benar mungkin aku terlalu banyak berharap. Aku yang ngga menyadari dimana posisiku dan letakmu yang sungguh jauh dari genggaman tangan. Entah ini tulus apa bodoh!.
                Tenanglah ngga perlu memperhatikanku lagi, aku terbiasa tersakiti kok. Ngga perlu basa-basi aku bisa sendiri kok. Daaan kamu pasti ngga sadar, aku bohong jika aku bisa begitu mudah melupakanmu.
                Menjauhlah, aku hanya ingin dekat-dekat dengan kesepian aja, disana lukaku terobati, disana ngga kutemu orang sepertimu, yang dengan mudah berganti-ganti topeng. Tau ah.....