Minggu, 06 Desember 2015

Renuangan II

Mengapa Takut?
“Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia. Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia. Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga”
(Matius 10:32-33)

Dalam tulisannya, seorang pendeta bercerita, bagaimana dia berjumpa dengan seorang anggota jemaat yang sudah sekian lama tidak hadir dalam kebaktian karenah brepindah domisili di luar pulau. Dalam pembicaraan yang mirip dengan acara temu kangen, anggota jemaat tersebut mengisahkan bagaimana dia bekerja dan kemana dia bergereja. Dan yang cukup mengejutkan sang pendeta adalah, bahwa anggota jemaat tersebut ternyata tinggal di sebuah pemukiman yang jauh dari pusat keramaian kota,dia sendiri yang beragama Kristen dan tidak seorangpun tahu bahwa dia adalah seorang Kristen. “mengapa kamu menyembunyikan kekristenanmu?” Tanya sang pendeta dengan nada agak tinggi dan tegas, dan anggota jemaat itu memberikan beberapa alasan seperti khawatir dikucilkan, dipersulit dalam pengurusan ini itu, dan sebagainya. Dan meang, apapun jabatan yang melekat salam gereja, entah pendeta atau penatua bahkan aktifis, orang tidak harus tahu karena kita tidak perlu mengeksploitasinya, tetapi mengapa harus takut dan malu dengan segunung alasan yang bisa saja menimbun bahkan mengenggelamkan iman Kristen?
Harus diakui bahwa masih terpampang fakta, betapa banyak orang, khususnya orang Kristen, yang masih dihantui ketakutan amat sangat, ketika harus mengatakan dan melakukan apa yang benar. Supaya mudah diterima, orang cenderung mengabaikan integritas (kesetiaan kepada komitmen dan prinsip kebenaran Allah) dan betapa mudah beralih kepada konformalitas (hidup penuh dengan kompromi tanpa memilih mana yang benar dan mana yang keliru). Asal bisa diterima masuk kerja, main pintu belakang pun oke, yang penting aman. Berapapun uang yang diperlukan, oke, asalkan permohonan dikabulkan, dan sebagainya
Menyampaikan atau menyerukan kebenaran sebagai sebuah bentuk pengakuan kepada Tuhan Yesus, sebenarnya bukan hanya persoalan pengakuan dengan mulut, melainkan pengakuan dengan tindakan. Ah betapa sayangnya, ada banyak orang yang menyerukan damai, namun gemar melukai perasaan sesame. Ada banyak orang yang berseru melayani, namun dia sendiri tidak melayani. Bukankah ini bentuk nyata dari rasa takut untuk mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat? Pengakuan itu ibarat dua sejoli yang tidak bisa dipisahkan, baik pengakuan mulut, maupund alam bentuk perbuatan. Orang yang mengaku dalam mulut namun tidak mewujudkan dalam perbuatan, itu munafik. Sedangkan orang yang mewujudkan dalam perbuatan tanpa pengakuan iman, itu cenderung atheis. Jadi, jangan takut mengaku Tuhan, wujudkan pengakuan itu bukan hanya dalam ucapan, melainkan juga dalam sikap hidup benar yang penuh dengan integritas. Jangan Takut!!

Perbuatan kita mencerminkan siapa yang kita IMANI